January 19, 2018

PENGKAJIAN CERITA REKAAN CERPEN ORANG-ORANG LARENJANG

PENGKAJIAN CERITA REKAAN

CERPEN ORANG-ORANG LARENJANG

1.   SINOPSIS
Sudah empat hari Bendara Gemuk tidak menampakkan dirinya. Bendara Gemuk menenangkan diri di ladang miliknya, di hutan Cempuya. Dia menghindari pembicaraan para tetangganya yang mempergunjing kemenakannya yang bernama Julfahri. Julfahri akan mempersunting Nurhusni yang masih satu keluarga dengannya. Menurut adat istiadat Larenjang, menikah dengan orang yang masih memiliki hubungan keluarga disebut “kawin sesuku” adalah pantangan.
Julfahri dan Nurhusni akhirnya menikah, dari pernikahannya mereka dikaruniayi seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak laki-laki mereka bernama Yanuar, namun Yanuar meninggal lebih dulu. Tinggal anak perempuan mereka yang masih hidup, Imelda. Imelda mengidap kanker otak stadium akhir, Nurhusni dalam kecemasannya mulai memperlihatkan tanda-tanda orang sakit. Nurhusni divonis mengidap diabetes, hingga dirinya buta permanen. Imelda akhirnya meninggal dunia. Setahun setelah kematian Imelda,Nurhusni menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam kesendiriannya, Julfahri teringat akan Bendara Gemuk yang dulu telah berjasa dalam pencapaian cita-citanya. Ia teringat akan perseteruannya dengan Bendara Gemuk sebelum ia nekat melanggar pantang. Julfahri memiliki angan-angan bahwa ketika dia meninggal nanti, jasadnya dikuburkan di tanah Larenjang. Namun mengingat perbuatannya di masa lalu yang telah melukai hati Bendara Gemuk beserta keluarga besarnya, ia mengurungkan niatnya.
2.   DAFTAR LOGIKA NARATIF

2.1  Bendara Gemuk menghilang selama 4 hari.
2.1.1        Bendara Gemuk berada di ladangnya, di hutan Cempuya untuk menenangkan diri dari desas-desus yang tak kunjung usai.
2.1.2        Adanya pembicaraan menggunjing, memfitnah, ancaman dan makian terhadap kemenakan Bendara Gemuk.
2.1.3        Kemenakan Bendara Gemuk, Julfahri bersikeras untuk tetap mempersunting Nurhusni.

2.2  Julfahri dan Nurhusni merupakan satu family / rumpun
2.2.1        Dalam aturan masyarakat, kawin sesuku merupakan tindakan yang melanggar pantangan.
2.2.2        Bila pantangan tersebut dilanggar oleh Julfahri dan Nurhusni maka mereka berdua akan dihapus dari silsilah keluarga, tidak mendapat hak waris dan diusir dari tanah Larenjang.
2.2.3         Dampak pelanggaran bagi sanak keluarga yang tinggal  di Larenjang akan dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
2.2.4        Bendara Gemuk mencoba memperingati dan menasihati Julfahri akibat dan dampak yang timbul jika Julfahri tetap melanggar pantangan tersebut.
2.2.5        Julfahri tetap berpegang teguh pada pendiriannya, karena merasa peraturan adat tersebut sudah ketinggalan zaman dan dirinya sudah siap menerima segala resiko yang akan dia terima bila melanggar aturan adat tersebut.
2.3  Bendara Gemuk tidak pernah mengecewakan para kemenakannya.
2.3.1        Bendara Gemuk merupakan orang pertama yang turun tangan ketika kemenakannya sedang mengalami masalah.
2.3.2        Seorang pengulu yang mengutamakan perhatiannya kepada para kemenekannya daripada keluarganya.
2.3.3        Seorang pengulu yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya.
2.3.4        Merupakan orang yang sangat berjasa dalam terwujudnya cita-cita Julfahri untuk menjadi seorang sarjana.
2.3.5        Sosok yang adil bagi para kemenakannya, hal ini terlihat ketika Bandara Gemuk membagi jatah berlahan kepada para kemenakannya. Para kemenakannya tidak merasa kurang dan tidak ada rasa saling curiga.
2.4  Para kemenakan Bendara Gemuk menghormati Bendara Gemuk.
2.4.1        Para kemenakan Bendara Gemuk menghormatinya seperti menghormati ayah mereka sendiri.
2.4.2        Para kemenakan Bendara Gemuk siap membela Bendara Gemuk jika hati Bendara Gemuk dilukai, dihina dan direndahkan.
2.4.3        Para kemenakannya siap menghadapi siapa pun yang mendukung rencana pernikahan Julfahri dan Nurhusni, karena hal ini membuat malu rumpun Larenjang.
2.5  Kehidupan yang dialami Julfahri setelah melanggar pantangan tersebut.
2.5.1        Julfahri ditinggal mati oleh anak laki-lakinya yang bernama Yanuar.
2.5.2        Imelda anak perempuan yang dibanggakan Julfahri dan Nurhusni merupakan keturunan satu-satunya yang tersisa.
2.5.3        Imelda mengidap kanker otak stadium akhir
2.5.4        Kedua orang tuanya berusaha menyelamatkan Imelda.
2.6  Kecemasan pada diri Julfahri dan Nurhusni
2.6.1        Namun keadaan Imelda semakin memburuk setelah melakukan operasi.
2.6.2        Kecemasan akan kehilangan Imelda mulai nampak pada diri Julfahri dan Nurhusni.
2.6.3        Nurhusni mulai menampakkan kondisi orang yang kurang sehat.
2.6.4        Kecemasan Julfahri mulai bertambah ketika istrinya divonis mengidap diabetes dan mengalami buta permanen.
2.6.5        Kecemasan Julfahri itu berubah menjadi kesedihan.
2.6.6        Kehilangan Imelda anak satu-satunya
2.6.7        Kehilangan istrinya yang menyusul setahun setelah kematian Imelda.
2.7  Munculnya ingatan masa lalu Julfahri
2.7.1        Julfahri teringat akan gunjingan orang-orang kampungnya mengenai dirinya puluhan tahun yang lalu.
2.7.2        Teringat akan terangsingnya orang-orang Larenjang akan perbuatannya
2.7.3        Julfahri teringat akan sosok Bendara Gemuk.
2.7.4        Bendara Gemuk sosok yang membantunya dalam mencapai cita-citanya.
2.7.5        Mengingat Bendara Gemuk yang mengasingkan diri dari kampung
2.7.6        Bendara Gemuk tak sanggup menanggung malu akibat pantangan yang dilanggar Julfahri.
2.8  Julfahri merasa menyesal
2.8.1        Julfahri sangat menyesal telah bertengkar dengan Bendara Gemuk.
2.8.2        Julfahri sadar bahwa perbuatannya telah melukai dan menistai hati Bendara Gemuk serta suku Larenjang.
2.8.3        Julfahri memiliki angan-angan bila ia meninggal, ia ingin jasadnya dimakamkan di tanah pemakaman suku Larenjang
2.8.4        Namun angan-angan tersebut ia batalkan karena ia sadar akan perbuatan yang telah dilakukannya dulu.
2.8.5        Julfahri telah mencoreng nama baik Bendara Gemuk dan membuat amarah orang-orang Larenjang terhadap dirinya tidak hilang.
2.8.6        Dengan kata lain tanah pemakaman Larenjang tidak akan menerima jasadnya.

3.   TOKOH DAN PENOKOHAN
            Ada tiga tokoh yang berperan dalam cerita ini ; tokoh utama Julfahri (tokoh I), tokoh Bendara Gemuk (tokoh II) dan tokoh para kemenakan Bendara Gemuk (tokoh III). Ketiga-tiganya ditampilka secara langsung, dan disajikan secara dramatic/ragaan : watak para tokoh diungkapkan dengan dialog dan lakuan tokoh. Hubungan antartokoh dan perkembangannya dengan mudah disimpulkan dari dialog dan lakuan yang disajikan itu. :
1.      Hubungan tokoh I dan tokoh II tidak akrab.
Kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu?”
2.      Tokoh I merasa lebih tahu daripada Tokoh II.
Kami tidak punya hubungan tali-darah, jadi kami bisa menikah! Kami siap dibuang dari Larenjang!”
3.      Tokoh III takut akan dampak perbuatan tokoh I.
“Tapi, bagaimana dengan kami yang akan menanggung malu seumur-umur?”
4.      Tokoh I tidak mengerti yang akan dialami tokoh III.
“Bila tidak berbuat salah,kenapa harus malu?”
5.      Tokoh I lebih berwibawa dari tokoh II.
“Awak hanya takut melanggar ajaran Tuhan!”
6.      Tokoh II member nasihat  dari tokoh I.
“Jaga multmu, Julfahri. Bisa kualat kau nanti”
7.      Tokoh II belum pernah mengecewakan tokoh III
Nyaris seumur umurnya telah habis oleh segala macam urusan kemenakan.
8.      Tokoh III menganggap tokoh II orang yang berani.
Bahkan bila terjadi kegentingan, ia tidak gamang “pasang badan” demi membela kami, para kemenakkannya.
9.      Tokoh II berjasa terhadap tokoh I.
Dalam pencapaian cita-cita Julfahri, Bendara Gemuk mencarikan orangtua angkat untuk membiayai kuliah Julfahri.
10.  Tokoh III menghormati tokoh II.
Kami menghormatinya, sebagaimana kami menghormati ayah kami.
11.  Tokoh III akan membela tokoh II.
Maka, membuat lelaki sepuh itu terluka, sama dengan melukai perasaan kami. Merendahkan martabat Gemuk berarti juga menghina kami. Melangkahi gemuk adalah juga menampar muka kami.
12.  Tokoh I lebih berwibawa dari tokoh III.
“Lalu dengan cara apa kalian akan menyelesaikannya”
13.  Tokoh III lebih berwibawa dari tokoh I.
“Dengan kerat kayu. Paham kau, keparat busuk?”
“Atau mulutmu besarmu itu kami sumpal dengan ketupat bengkulu!”
14.  Kehidupan tokoh I setelah meniggalkan Larenjang
Di usia sepetang ini, hidup sebatangkara di tanah rantau akan menjadi tahun-tahun penghujung yang sulit bagi lelaki ringkih itu.
15.  Tokoh I hidup sebatangkara.
Kehidupannya di tanah perantuan selalu mendapat musibah dimulai dari meniggalnya kedua anaknya, kemudian istrinya yang mengalami buta permanen akibat penyakit diabetes yang meninggal setahun setelah kematian anak perempuannya
16.  Tokoh I sukar melupakan jasa tokoh II
Ia sukar melupakan jasa Bendara Gemuk yang telah mencarikan induk-semang di kota provinsi, hingga ia bisa bekerja dan membiayai kuliah, meraih cita-cita sarjananya.
17.  Tokoh I merasa dihantui dalam kesendiriannya
Rasa yang paling menghantui kesendiriannya saat ini adalah perseturuan hebatnya dengan Bendara Gemuk sebelum ia nekat melanggar pantang.
18.  Tokoh I menyesal akan perbuatannya terhadap tokoh I dan tokoh II.
Ia menyadari, betapa perbuatannya di masa lalu telah melukai hati pengulu dan menistai keluarga besar suku Larenjang.

4.   ALUR DAN PENGALURAN
            Alur cerita ini sebenarnya bersifat linear. Sorot balik yang bersifat informatif tidak mengganggu, yaitu dalam bentuk bayangan yang timbul dalam angan-angan Julfahri tentang masa lalunya yang telah melanggar pantangan para leluhur dan membuat malu keluarga besarnya.
            Sudah sejak awal cerita terasa adanya rangsangan (lihat pada paragraph pertama). Rangsangan kedua timbul dengan perseteruan antara Bendara Gemuk dengan Julfahri. Rangsangan tersebut timbul akibat kata-kata Julfahri, “Kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu?” begitu Julfahri berkelit ketika Gemuk mendesaknya untuk membatalkan rencana itu.
Kerinduan akan sosok Bendara Gemuk orang yang telah berjasa dalam pencapaian cita-citanya serta disertai rasa jenuh di tanah perantauan yang membuat dirinya mengingikan kembali ke kampung halamannya sampai ke angan-angan. Ketika hanyut dalam angan-angan tiba-tiba ada suara mendenging di kupingnya dan segera ia batalkan angan-angannya. Keinginan untuk dimakamkan di tanah Larenjang tanah para leluhurnya, lenyap sudah karena perbuatannya di masa lalu.
Cerita ini memikat dari awal sampai akhir. Kejutan yang berada di akhir cerita dan tegangan di bagian tertentu membuat pembaca terus terangsang rasa ingin tahunya.
5.   LATAR
            Latar kebudayaan dibentangkan sejak awal ; judul cerita “ Orang-orang Larenjang” menyiratkan sejumlah informasi dan nilai-nilai tertentu. Menurut arti konotatif tersaran berupa kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan budaya, yang memiliki suasana pedesaan yang dikelilingi hutan dengan adat istiadat yang masih berpengaruh kuat dalam kehidupan sehari-hari. Adat istiadat ini terlihat dalam cuplikan dimana adanya “pergunjingan” yang berisi tentang pelanggaran aturan adat yang dilakukan oleh Julfahri kemenakan Bendara Gemuk. Jika ada orang yang melanggar pantangan tersebut maka akan berdampak bagi keluarga besarnya. Kesan ini diperkuat dengan adanya bagian cerita yang menjelaskan akibat dari pelanggaran pantangan tersebut. (bila dilanggar, suku kami akan terbuang. Julfahri dan Nurhusni akan dihapus dari silsilah keluarga dan tidak mendapat hak waris). Sikap Julfahri yang bersikeras untuk menikahi Nurhusni dengan cara membantah semua nasihat dari Bendara Gemuk, karena Julfahri merasa bahwa aturan adat istiadat tersebut sudah ketinggalan zaman. (“kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu.”)
Latar fisik terlihat pada paragraf tiga : “Sudah empat petang tak tampak batang hidungnya di lepau kopi, tidak pula di surau.” “Sesungguhnya ia tidak pergi, hanya saja tidak pulang, dari ladang gambirnya, di rimba Cempuya.” Dari cuplikan kisah tersebut terlihat jelas keadaan tempat orang-orang Larenjang. Dilihat dari lokasi-lokasi yang disebutkan dalam kisah, terlihat jelas bahwa kehidupan masyarakatnya masih sederhana.
Pada umumnya latar mendukung cerita dengan baik. Tambahan keterangan Toa  pada awal cerita menggambarkan bagaimana keadaan warga Larenjang yang ramai membicarakan dan menyebarkan kejelekkan Julfahri. Kisahan Bendara Gemuk yang mengasingkan diri ke kebunnya di rimba Cempuya mengambarkan kembali berpijaknya tokoh pada realitas yang diterimanya dengan kebingungan dan rasa malu.
Penggunaan istilah Melayu memberi kesan penempatan yang memperkuat kesan kebudayaan yang sangat dijaga oleh para pengulu suku dan warganya.
6.   SUDUT PANDANG
Penggunaan sudut pandang orang pertama menyebabkan pencerita terlibat di dalam cerita. Mengenai tokoh Bendara Gemuk dan tokoh Julfahri, pencerita bersifat serba tahu. Ini memungkinkan tidak adanya kejutan dari pihak tokoh I dan tokoh III.
7.   TEMA DAN AMANAT
7.1 TEMA
Cerpen “Orang-orang Larenjang” bertemakan kehidupan masyarakat yang masih berpegang teguh terhadap adat istiadat.
7.2 AMANAT
Berpikirlah ke depan dan lihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sebelum mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan.
8.   KESIMPULAN
8.1 KELEBIHAN
1.      Cerpen ini memiliki unsur-unsur kejutan. Seperti halnya mengenai rasa penyesalan Julfahri yang berani melanggar pantangan adat, padahal di awal cerita cerpen ini, Julfahri bersikeras dan berani melawan sanak saudaranya untuk menikahi Nurhusni tanpa ada rasa menyesal.
2.      Cerpen ini dapat mengambarkan perasaan tokoh dalam cerpen dengan baik.
3.      Mempunyai unsur pendidikan yang baik

8.2 KEKURANGAN
1.      Bahasa yang digunakan membingungkan pembaca, sehingga pembaca perlu mengartikan terlebih dulu maksud dari kalimat tersebut.
2.      Masih menggunakan bahasa kedaerahan. Contoh dalam cerpen terdapat pada dialog antara Julfahri dengan Bendara Gemuk
“kenapa awak mesti menghamba pada aturan using itu?” begitu Julfahri berkelit ketika Gemuk mendesaknya untuk membatalkan rencana itu.
Dialog antara Julfahri dengan saudara-saudaranya.
“bila ajal Gemuk lebih lekas lantaran menanggung malu akibat perangai gilamu itu, kau tak bakal selamat!” begitu kami menggertak Julfahri
“lantaran kami tidak berpendidikan sepertimu, kami tidak pandai menyeselaikan kusut ini dengan cara berunding.”
“lalu dengan cara apa kalian akan menyeselaikannya?” tanya Julfahri pongah.
“dengan kerat kayu. Paham kau, keparat busuk?”
“atau dengan mulut besarmu itu kami sumpal dengan ketupat Bengkulu!”

No comments:

Post a Comment

Featured Post

4 Lembaga Penerima Hibah Setiap Tahun

4 Lembaga Penerima Hibah Setiap Tahun 1. KONI  dasar hukum untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) adalah Pasal 69 Undang-Undang Nom...

Popular Posts