January 19, 2018

PERANG SALIB KONTAK BUDAYA ANTARA BARAT DENGAN TIMUR

PERANG SALIB

KONTAK BUDAYA ANTARA BARAT DENGAN TIMUR


KONTAK BUDAYA

            Suriah menjadi daerah terpenting dalam hal proses kontak budaya antara Barat dan Timur. Selama berlangsungnya perang salib, terjadi proses interaksi budaya antara Barat dan Timur. Interaksi di antara keduanya lebih banyak menguntungkan Barat ketimbang Timur. Aspek kebudayaan yang lebih banyak berpengaruh pada orang Barat lebih banyak meliputi aspek seni, perdagangan, dan industri daripada aspek sastra maupun keilmuan.
            Dibawah kekuasaan dinasti Nuridiyah dan Ayyubiyah, Suriah dan Damaskus menjadi saksi periode paling gemilang saat dipimpin oleh Nur al-din dan Shalah al-din. Nur al-din merenovasi dinding-dinding pertahanan kota, menambahkan pintu dan menara, serta membangun gedung-gedung pemerintahan, tetapi Nur al-din juga mendirikan sekolah pertama di Damaskus. Dia juga membangun rumah sakit terkenal dengan namanya (al-Nuri). Shalah al-din merupakan khalifah yang lebih banyak mencurahkan perhatian pada bidang pendidikan dan arsitektur. Shalah al-dinmemperkenalkan sekolah tipe madrasah ke negeri Yerusalem dan Mesir. Salah satu akademi terkemuka di Kairo menyandang namanya sendiri yakni al-Shalahiyyah. Selain mendirikan sejumlah sekolah, Shalah al-din juga membangun dua rumah sakit di Kairo.
            Tanpa mengesampingkan manisfestasi intelektual dan aktivitas pendidikan, kebudayaan Islam pada masa Perang Salib di Timur bisa dikatakan sama sekali tidak berkembang. Dalam dunia filsafat, kedokteran, musik, dan disiplin lainnya, hampir semua kekuatan besar itu telah musnah. Hal ini sebagian menjelaskan mengapa Suriah, yang sepanjang abad ke-12 dan ke-13 menjadi perhatian utama dalam hubungan antara dunia Islam dan Kristen Barat, membuktikan diri sebagai sarana bagi penyebaran pengaruh bangsa Arab, yang kepentingannya jauh lebih kecil dibanding Spanyol, Sisilia, Afrika Utara, atau bahkan kerajaan Bizantium.
            Walaupun di Suriah kebudayaan Islam memberikan pengaruh besar pada perkembangan budaya Kristen di Eropa melalui Pasukan Salib, kemudian melalui penerapan dampak budaya itu langsung di tengah masyrakat Barat, dan melalui proses infiltrasi di sepanjang rute perdagangan, kesan tentang adanya pengaruh spiritual dan intelektual tidak kita dapatkan. Di sisi lain, kita juga harus mengingat bahwa orang Franka di Suriah, disamping memiliki tingkat kebudayaan yang lebih rendah dibanding musuh mereka, mereka juga kebanyakan merupakan legiun asing yang selalu diam di markas dan benteng mereka, lebih banyak menjalin kontak dengan penduduk pribumi yang kasar ketimbang dengan para sarjana atau kalangan intelektual negeri itu.
            Selain itu, terdapat kebencian atau prasangka kebangsaan dan keagaman akut yang merintangi proses interaksi  di antara bangsa-bangsa yang terlibat. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan kesenian, Pasukan Salib hanya memiliki sedikit keahlian untuk diajarkan kepada para penduduk pribumi. 2
            Kontak budaya ini terjadi karena faktor geografis Suriah yang berbatasan dengan Laut MediteraniaLaut Mediterania merupakan laut pedalaman yang berada diantara benua Eropa, Asia, dan Afrika. Laut ini berhubungan dengan Lautan Atlantik di sebelah baratnya, yang dihubungkan oleh Selat Giblartar. Karena posisinya yang strategis, secara politik-ekonomi Laut Mediterania menempati posisi yang sangat penting sebagai tempat perdagangan maritim selama beberapa abad antara dunia Islam dan Eropa.3



Philip K. Hitti, History of The Arabs. (Jakarta: Serambi lmu Semesta, 2010), hlm.  842-843 
Mahayudin Hj. Yahya op.cit. hlm. 385

No comments:

Post a Comment

Featured Post

4 Lembaga Penerima Hibah Setiap Tahun

4 Lembaga Penerima Hibah Setiap Tahun 1. KONI  dasar hukum untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) adalah Pasal 69 Undang-Undang Nom...

Popular Posts